Saturday, 4 April 2020

(Part 3) Our 2020 Journey: Palestina (yang hampir terlupakan)

Sabtu, 8 February. Pagi yang dingin di al-Quds, 6° saat kami berkumpul untuk tur ke kota Al Khalil (Hebron). Stop point pertama di Masjid dan Maqam Nabi Yunus yang letaknya di tepi jalan raya, sangat mudah mengaksesnya.
Seperti maqam pada umumnya, disini hanya melambangkan tempat ini pernah didatangi atau ditinggali Nabi Yunus.

Maqam nabi Yunus
Stop point kedua di Masjid Ibrahimi. Untuk mencapainya harus jalan kaki sejauh 500 meter lagi karena 15R43L gak mengizinkan bus2 mendekati areal masjid. Sebenarnya kota ini dibawah otoritas Palestina, tapi penjajah bersikukuh gak mau angkat kaki dari sana dengan dalih melindungi peziarah yahudi 🙄

Inside Masjid Ibrahimi
Terdapat 7 maqam di dalam Masjid. Maqam nabi Ibrahim dan istrinya Siti Sarah, nabi Yaqub dan istrinya Leah, nabi Ishaq dan istrinya Rifka, dan maqam nabi Yusuf. Kata Firaz kuburannya ada di dalam gua yang terletak 15 meter dibawah Masjid. Bisa diintip dari lubang yang bertuliskan Alghar Alsharif (Gua Suci).



Pada February 1994 di sini terjadi pembantaian jama'ah sholat Subuh oleh yahudi. Sejak saat itu Masjid Ibrahimi dibagi menjadi 2 bagian, Masjid untuk Muslim dan sinagog untuk yahudi, yang dibatasi pintu lipat/geser. 10 hari dalam setahun pada hari2 besar Islam seluruh bangunan menjadi Masjid, begitupun 10 hari dalam setahun pada hari2 besar yahudi seluruh bangunan menjadi sinagog.


Pembatas Masjid dan sinagog
Yang bikin amaze, di situ terdapat mushola yang dibangun orang Indonesia bernama Amir Alamuddin al-Jawi. Firaz cerita kalau Amir disini kemungkinan raja/pemimpin. 500 tahun yang lalu beliau datang jauh2 dari Jawa naik kuda, mewaqafkan hartanya membangun Mushola di situ untuk menghormati nabi Ibrahim dan keluarga. Wallahu'alam.


Mushola Amir Alamuddin Al Jawi
Stop point berikutnya di Betlehem untuk makan siang dan belanja. Toko 'Ziarah' yang kami datangi lantai bawahnya pusat oleh-oleh, dan resto di lantai atas. Praktis.


Pusat oleh-oleh di lantai 1

Resto di lantai 2

Selanjutnya kembali ke al-Quds menuju Bukit Zaitun. Dari sini bisa terlihat keseluruhan Baitul Maqdis/Old City, dan tentu saja komplek al-Aqsha dengan kubah emasnya yang jadi iconDi sanalah "Masjid yang Jauh" itu, kiblat pertama kita, tanah suci ketiga kita, negeri yang diberkahi yang keberadaannya hampir terlupakan. Rasa haru memandang kota ini dari kejauhan, mengingat betapa kita sekarang sudah hampir kehilangannya 😔


Panoramic view of Al Quds


Teringat tulisan seseorang: "Yang perlu kita renungkan tentang Al Quds adalah, mengapa Rumah Allah kedua didirikan di sini? Mengapa Nabi Musa diperintahkan Allah membawa Bani Israil ke tanah ini? Mengapa Nabi Muhammad SAW dibawa dulu ke sini baru di Mi’raj-kan ke langit dan Sidratul Muntaha untuk bertemu Sang Maha Pencipta, kenapa tidak dari Makkah langsung? Mengapa Rasul meminta umatnya agar mengutamakan pergi ke Masjidil Aqsha (selain Masjidil Haram & Masjid Nabawi) sebelum pergi ke tempat lain? Mengapa sejak dahulu, berbagai bangsa datang untuk berperang memperebutkan tempat ini?  Mengapa semua manusia akan dikumpulkan di tempat ini saat datangnya hari kiamat? Tentu semua ini adalah rahasia Allah yang logika kita masih sangat terbatas dalam menjawabnya".
Ya, semua itu menjadi rahasia Allah. Tugas kita hanyalah berusaha memakmurkannya, menunjukkan pada dunia Al Quds adalah milik kita, sampai pada masanya ia akan dibebaskan. Hingga saatnya nanti Allah bertanya apa kontribusi kita dalam memperjuangkannya, kita dapat menjawabNya dengan jawaban terbaik.
Ah menuliskannya membuat hati gerimis 😢


... 

Mestinya tulisan ini berlanjut ke cerita di Yordan, tapi dicukupkan sampai disini dulu yaa, lagi baper tekangen tanah suci yang ketiganya sekarang lagi ditutup karena covid19 🥺
Semoga keadaan segera membaik dan kita dapat kembali memakmurkan ketiganya, lagi, dan lagi.. Aamiin.

Read more -

Friday, 27 March 2020

(Part 2) Our 2020 Journey: Taba - Palestine


Lanjut ceritanya...

Kamis, 6 February. Setelah sarapan ngumpul di lobby. Poto2 sebelum check out (teteup) trus lanjut nge-bus 2 menit ke perbatasan 😅 Serius cuma 2 menit-an karena hotelnya deket banget sama Taba Border.


Taba Border
Begitu turun bus disambut porter yang dengan semangat membawa koper2 besar kami. Secara dibayar USD 1 per koper, dikali 2 lagi karena porter yang mengangkut di bagian Mesir berbeda dengan yang di bagian Palestine yang dijajah. Gw dan suami pastinya bawa koper masing2 #noporter2club

Jalan kaki melewati perbatasan ada tulisan Welcome to 15R43L 🙄 Check point pertama lancar, cuma diliat paspor dan ditanya dari mana. Kemudian masuk ke ruangan semacam kantor imigrasi. Terpampang nyata foto yang ada bendera Amriknya. Hmmm cukup tau aja kan yaa sohibnya negara penjajah ini 😏
Antrian panjang mengular, hampir 2 jam nunggunya. Check point II, pemeriksaan paspor (lagi) dan tagging barang bawaan. Gw, suami, dan anak2 muda lainnya kena random check doong. Kalau yang lain paspornya langsung balik setelah diperiksa, paspor kita2 ditahan, dan diberi selembar kertas bertuliskan Security Check. O oww 😶
Check point III kita dan barang masing2 melewati x-ray. Setelah pengambilan barang, kami menunggu paspor kami yang terlihat dibersihkan dengan alat (suami bilang itu scanner) untuk kemudian dikembalikan kepada kami dengan selembar kertas bertulis Security Pass. Syukurlah gak ada pemeriksaan yang lain2 lagi.
Check point berikutnya kembali paspor diperiksa untuk kemudian diberi selembar Entry Permit. FYI, paspor kita gak distempel karena kabarnya banyak negara yang menolak masuk orang2 yang dipaspornya ada stempel 15R43L. Secara negara ilegal. Gak sudi juga yekan paspor kita dapat stempelnya 😏
Keluar gedung dikira sudah selesai, ternyata masih ada check point terakhir. Jadi kalau ditotal ada 5 check point, yang semuanya dijaga wanita2 muda yang terlihat terlatih. Cantik2 sih, tapi gak ada ramah2nya. Mungkin lagi magang atau wajib militer. Whatever, welcome to Palestine 🇵🇸
Bus sudah menunggu rombongan, tapi guide kami yang orang Palestine (Firaz namanya) baru bisa ketemu saat masuk Jericho yang termasuk kota dibawah otoritas Palestina. Karena masih dijajah, beberapa tempat di Palestine terlarang untuk warganya sendiri. Sedih yak 😔

Di Jericho 'the oldest city in the world', kami makan siang di Temptation Resto, sekalian jamak sholat. Lanjut ke Gunung Godaan Temptation Mount yang merupakan tempat Nabi Isa digoda saat sedang berpuasa. Sepertinya kisahnya lebih familiar di temen2 Nasrani. Bagi umat Islam, Jericho yang berada di timur Baitul Maqdis dipercaya sebagai tempat lahirnya Nabi Isa berdasarkan firman Allah:


Yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur.”
(QS. Maryam: 16)

Yang pasti sebagai tempat wisata, banyak yang jualan dan ngasih tester gratis kurma medjol khas Palestine dan buah tin 😋


Tester buah Tin & kurma
Sebelum ke al-Quds (Yerusalem) kami mampir ke maqam nabi Musa. Gak bisa dipastikan ada tidaknya jasad beliau disana. Suami bilang yang penting mendoakan dan meneladani perjuangan beliau menegakkan agama tauhid.


Maqam Nabi Musa
Sudah hampir maghrib saat kami tiba di New Capitol Hotel di al-Quds, sekitar 350 meter dari Baitul Maqdis/Old City. Alhamdulillah gak begitu jauh, jadi bisa sering2 ke al-Aqsha 🥰 Tapi harus tetap hati-hati karena infonya baru kemarin ada kejadian penabrakan belasan tentara 15R43L, jadi gak menutup kemungkinan penjajah tambah rese, secara al-Quds masih dikuasai mereka.


Hotel kami di Al Quds
Jumu'ah mubarak, 7 February. Jam 9 pagi tur komplek al-Aqsha dimulai, saat hujan gerimis disertai angin bersuhu 9°C, grup kami berjalan kaki menuju Baitul Maqdis/Old City 🥶
Al-Aqsha adalah komplek yang terletak di Baitul Maqdis.
Disebut komplek karena di area seluas 14 Ha itu terdapat beberapa masjid: Kubah as-Sakhrah, Masjid al-Qibli, Masjid Buraq, Masjid Marwan, dll. Ada yang mengatakan jumlahnya 7 masjid.


Map of Baitul Maqdis
Baitul Maqdis memiliki beberapa pintu gerbang, dari hotel kami Herod's Gate lah yang terdekat untuk mencapai komplek al-Aqsha. 

Penampakan tentara penjajah di tiap gate
Tujuan pertama kami ke masjid kubah emas (kubah as-Sakhrah) yang di dalamnya ada jejak telapak nabi saat Mi'raj (naik ke langit untuk menerima perintah shalat) serta 3 helai rambut beliau yang dibawa Salahuddin Al Ayyubi dari Mekah. Kata Firaz, di seluruh dunia hanya ada 10 helai rambut nabi. 3 helai berada di sini, sisanya di Istana Topkapi Turki. Alhamdulillah saat ke sana dulu sempat melihatnya 🥰


Suasana di bawah kubah Shakhrah
Setelah melihat penampakan bukit batu yang dulunya adalah kiblat pertama (sekarang bisa dipakai untuk shalat), tur dilanjutkan ke Masjid al-Qibli yang berkubah hitam. Kami masuk ke bagian bawah mesjid yang disebut al-Aqsha al-Qodim (Aqsha kuno/old Aqsha). Old Aqsha memiliki tiang2 penyangga lama yang ditopang tiang2 baru. Disini terdapat 3 gerbang masuk al-Aqsha pada zaman dulu, mihrab Maryam, dan sumur zaitun yang dulunya dipakai menampung minyak zaitun untuk menerangi lampu2 Baitul Maqdis.


Telah diriwayatkan dari Maimunah, sesungguhnya dia berkata, "Wahai Rasulullah berilah fatwa kami tentang Baitul Maqdis". Nabi bersabda, "Datangilah dan shalatlah di sana. Bila engkau tidak bisa datang ke sana untuk menjalankan shalat di dalamnya, maka kirimkan minyak untuk menerangi lampu-lampunya".
(HR. Abu Dawud)


al-Aqsha al-Qodim
Lanjut ke Masjid al-Buraq. Di dinding masjid terdapat gelang2 besi yang dipercaya merupakan tempat nabi menambatkan Buraq (tunggangan beliau) saat Isra Mi'raj.

Masjid al-Buraq
Kemudian ke tembok ratapannya yahudi yang berada di balik dinding masjid al-Buraq. Infonya Firaz tiap tanggal 9 Agustus mereka ramean disini meratapi kehancuran istana raja Sulaiman oleh tentara Romawi. Saat di sinilah hujan yang tadinya gerimis menjadi deras. Grup kami buru2 kembali ke dalam komplek Al Aqsha, sudah mau masuk waktu sholat Jum'at pun. So pada berwudhu kemudian jamaah wanita menuju Masjid As Sakhrah dan jamaah laki2 ke Masjid Qibli.
Firaz berpesan agar setelah Jum'atan dan jamak Ashar (di Aqsha setiap selesai sholat Zuhur dan Maghrib ada jamak sholat Ashar dan Isya untuk musafir), kami harus bergegas keluar Old City dan kembali ke hotel karena biasanya ada aksi demo setelah sholat Jum'at, apalagi kemarin ada kejadian penabrakan. Kalau ada aksi biasanya Old City akan ditutup. Serem juga kan kalau kita terkurung di dalam, karena gak ada jaminan aksi demo berjalan damai 😣

Jumu'ah greeting
So bubar sholat kami yang wanita buru2 cari jalan keluar, pakai acara nyasar pun. Harusnya ke Herod's Gate, malah keluar di Lion's Gate. Jadi muter jauh menuju hotel, ditengah hujan angin yang dingin 🥶 Syukurlah gak ada aksi demo saat itu.
Sorean cuaca membaik, gw & suami jalan2 menunggu waktu Maghrib. 
Qadarullah bertemu saudara Palestine kita saat explore sekitar Masjid Qibli, Hisyam namanya. Englishnya gak fasih, tapi begitu semangat bercerita tentang dirinya dan negaranya. Suami memamerkan syal Palestine-Indonesia yang gw pakai saat itu. Dia tau koq Indonesia sangat support Palestine. And we promise to always be that way, bro 🤝
Chit chat ditutup dengan kami memberinya permen tingting khas Indonesia. He likes it 😁
Kami memang sengaja membawa snack berupa permen dan cookies dari Balikpapan untuk dibagikan ke anak2/saudara2 kita disana 🥰


Brother Hisyam

Cerita tentang ziarah tempat lain di Palestine en Yordan dilanjut di part berikutnya yaa.

... to be continued.

Read more -

Monday, 23 March 2020

(Part 1) Our 2020 Journey: Preparation - Taba

"Janganlah sengaja memaksakan perjalanan (ibadah), kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram, masjidku ini (Masjid Nabawi), dan Masjidil Aqsha"
(HR Bukhari)

Kalau Umroh sebelumnya edisi dadakan sebulan jadi, kali ini jauh2 hari sudah ngincer traveling 3 tanah suci. We'll prepare our best to meet you, yaa Baitul Maqdis 😇

May 2019
Sejak Ramadhan 1440 H rajin mantengin grup2 umroh mandiri UBP & UBY di Fb. Pas ada yang ngepost rencana Umroh+Aqsha+Cairo, langsung save kontaknya en ngejapri untuk tau detailnya. Oke juga untuk harga tiket dan LA (land arrangement), tapi belum deal saat itu.

July 2019
Setelah lebaran kepikiran lagi, jadi deh chat mbak Isti lagi. Beliau yang arrange perjalanannya. Ternyata harga tiket yang tadinya 10-an juta, sudah jadi 13 juta!
Gw minta si mbak infokan kalau besok2 turun lagi. Besoknya diinfo sih, tapi harganya jadi 15 juta! Qadarallah mungkin belum jodoh 😔
Beberapa hari kemudian nampak status Wa mbak Isti menawarkan tiket 13-an juta untuk pergi pulang dari/ke Jakarta (sebelumnya depart di Singapur). Gw tanya deh apa bener harga turun? Ternyata gak, tapi bisa disiasatin pake promo di applikasi2 bisa dapat harga segitu. Bismillaah.. langsung excited plus deg2an karena limited time promo. Alhamdulillah bisa nebeng hape temen2 kantor jadi bisa issued tiketnya. Jazaakumullaah 😊
Kegalauan selanjutnya muncul karena pengen ajak Mama juga, ajak Bapak Hasan juga. Tapi budget belum memungkinkan buat kesana rombongan. Semoga next ada kesempatan kesana ramean yaa, aamiin 🤲

October 2019
Awal bulan ada telpon masuk dari nomer Arab, pas lagi meeting pun. Auto gak angkat. Parno juga kaan, secara banyak info kalau dapat telpon dari nomer luar negeri sebaiknya jangan direspon kalau gak mau menyesal pulsa ludes atau apalah.
Baru ngeh setelah cek email Spam kalau itu nomer telpon maskapai yang gw pakai dari Jordan ke Jeddah nanti doong.
Email dari Flynas sejak akhir September menginfokan flight gw nanti canceled! Padahal Februari loh masih lama, bisa gitu yak 😰
Alhamdulillah sih segera tau, padahal jarang banget buka email SpamSo gw telpon Flynas untuk urusan refund. Lanjut issued tiket Saudia buat gantinya.

December 2019 - January 2020
Pemerintah Saudi bikin aturan2 yang bikin deg2an. Masa berlaku paspor umroh yang dulunya minimal 7 bulan, sekarang jadi harus minimal 1 tahun. Alhamdulillah perpanjangan paspor Rian lancar karena bantuan dokumen kiriman mbak Isti. Paspor gw sendiri sudah diperpanjang sepulang dari umroh terakhir. Lincah kan gw, ikhtiar biar bisa jalan2 abroad lagi gitu 🤭
Di masa2 penantian dolar bisa turun (bisa saving LA), pemerintah Saudi malah memberlakukan tambahan biaya asuransi dsb yang ditotal mencapai USD 200. So mau gak mau LA nambah lagi.
Mbak Isti cukup bijak dengan memberi pilihan mau turun grade hotel atau tetap di hotel awal tapi ada tambahan biaya. Jamaah terbagi jadi 2 grup. Grup I gak masalah nambah biaya, grup II juga nambah sih tapi gak sebanyak grup I dan harus turun grade hotel. Gw auto masuk grup II. Selain masih sama2 hotelnya di ring 1, gw & Rian mau upgrade kamar jadi twin yang nambahnya lumayan. Selain kita, cuma ada 5 orang lain (1 keluarga) yang masuk ke grup II. 40-an orang lainnya di grup I.
Awal tahun visa Mesir sudah terbit, disusul visa umroh yang keluar pertengahan Januari. Tanggal 29 Januari 2020 akhirnya visa 15R43L keluar. Setelah deg2an menunggu karena gak sedikit cerita negara penjajah itu menolak mengeluarkan visa tanpa alasan yang jelas (Biasanya karena hate speech ke mereka. Gw aja sempat deactivate Fb, secara isinya banyakan #freepalestine). Ditambah "Kesepakatan Abad Ini" ala mereka yang membuat emosi warga Palestina, akibatnya lagi banyak aksi protes disana akhir2 ini. Worry campur excited lah rasanya mau kesana.


February 2020

Tanggal 3 February, Senin jam 2 siang boarding Oman Air ke Muscat. Siap2 flight 7 jam! Eh fyi, check-in online Oman Air sebelum hari H berbayar loh. Kita mah tungguin hari H ajalah ya #teamgratisan

Transit Muscat gak sampe 2 jam, lanjut boarding Oman Air ke Cairo. Pesawatnya gak rame, bisa tidur selonjoran. Berasa jadi penumpang kelas bisnis gitu 😙
Sampe di Cairo selasa dinihari, suhu setempat 12°. Langsung pakai mantel tebal yang emang sudah disiapkan. Brrr~

Egypt Airport Icon
Nunggu rombongan yang transit di Jeddah yang subuh baru sampe. Delay kesiaan.
Sampai di hotel Pyramid sebelum jam 7, langsung sarapan di resto. 

Shaher, si guide, bilang jam 9 pagi sudah harus ngumpul buat city tour. Jadilah abis sarapan bersegera mandi dan siap2.

Stop point pertama pastinya ke Piramida Giza yang fenomenal itu. Yang berat 1 baloknya lebih dari 1 ton. So bayangin aja berapa effort yang dikeluarkan untuk membangun setinggi lebih dari 100 meter gitu. Untuk apa mereka membangunnya? Apa bahan pembuatannya? Kita meyakini piramida dibangun untuk makam raja2, dibangun segede itu dari batu kapur untuk memuat harta yang akan menemani raja di alam sana. Namun menurut Al Qur'an tujuan utama pembangunannya bukanlah untuk makam.


Dan berkata Fir'aun: Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah Hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi  supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa Dia dari orang-orang pendusta.
(QS. Al Qashas: 38)

Pyramid of Khafre
Stop point kedua di pabrik Papyrus, melewati Pyramid Street yang ternyata dibangun oleh Napoleon Boneparte. Di pabrik Papyrus ditunjukkan cara membuat kertas dari tanaman Papyrus yang tumbuh di sekitar sungai Nil, dan telah digunakan bangsa Mesir Kuno sejak ribuan tahun lalu dan masih eksis sampai sekarang. Wow! 👍👍


Glow-in-the-dark Papyrus
Makan siang di Chinese Resto New Wang Fu. Dilanjutkan ke pabrik parfum Golden Eagle yang juga memproduksi parfum2 macam Dior, Channel, dsb.
Sekitar jam 3 sore rombongan kami sampai di The Egyptian Museum. 2 jam di dalam museum gak terasa karena tempatnya besaar dan koleksinya banyaak. Ada berbagai bentuk dan jenis artefak, mumi, sampai barang2 peninggalan raja2 mesir kuno. Yang paling diincar pastinya topeng raja yang infonya terbuat dari 11 kg emas! 😲


Inside d Egyptian Museum
Source: Wikipedia
Mumi ditempatkan di ruangan khusus, yang tiket masuknya berbayar lagi. Dan teteup, taking picture is prohibited. Gak boleh berisik pun. So sebelum masuk ruang mumi, Shaher menjelaskan dari beberapa mumi yang ada, salah satunya berwarna lebih terang dari yang lain. Kabarnya mumi tersebut adalah Firaun yang tenggelam di Laut Merah saat mengejar Nabi Musa. Dialah yang diabadikan dalam Al Qur'an:


Dan (ingatlah) ketika kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir'aun) dan pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan.
(QS. Al Baqarah: 50)

Kurang puas pastinya di museum. Tapi kita harus beranjak menuju Masjid Al Azhar untuk jamak sholat karena jalanan di pusat kota Cairo sering macet. Ternyata Al Azhar dulunya berpaham syiah dibawah Fathimiyah, setelah ditaklukan Salahuddin Al Ayyubi sempat ditutup dan diganti paham Sunni. Alhamdulillaah...

Masjid Al Azhar
Setelah Magrib kami dibawa ke pasar terkenal El Khalili untuk belanja oleh-oleh. Kita diarahkan ke toko fixed price untuk menghindari tawar menawar dan tawaf pasar yang pastinya memakan waktu lama. Haha.. Shaher tau banget kelakuan orang kita 😅


Fixed-price Store
Selanjutnya dinner cruise di sungai Nil. Seru sebenarnya karena ada live music, tapi kita yang udah tepar (karena sejak tiba belum istirahat cukup) malah jadi kurang excited dan memilih memejamkan mata setelah makan. Ada penari perut juga sih, gak bagus buat ditonton 🙈


Inside the cruise

Rabu, 5 February. Pagi2 sudah harus packing koper karena check out setelah sarapan. Jam 7 bus sudah jalan. Kita menuju Terusan Suez untuk menyebrang ke benua Asia. Kemarin sempat nulis kalau Turki satu2nya negara diantara 2 benua, gak inget kalau Mesir juga 🙇‍♀️
Di sepanjang jalan dari Terusan Suez banyak check point dan tentara yang berjaga. Shaher bilang tempat ini diperebutkan, secara strategis banget. Bayangkan aja kalau Terusan Suez ditutup, bakal sulit banget buat kapal2 Eropa menuju Asia, harus muterin Afrika dulu. Jauh bgt!
Dari terusan Suez menuju Sinai, pemandangannya cuma gurun pasir plus gunung batu. Terik sih tapi suhu 19°. Brrr~

Mata air nabi Musa
Kita melewati salah satu mata air Musa. Shaher bilang aturan pemerintah sekarang gak boleh lagi disinggahi, jadi cukup foto dari bus. Shaher menceritakan sejarah gimana kelakuan Bani Israil yang dari dulu gak ada benernya. Padahal sudah Allah selamatkan dari Firaun dengan mengutus Nabi Musa, masing2 suku diberi mata air berbeda, dan juga makanan dari syurga. Tapi mereka banyak mau dan gak tau terimakasih, malah bikin patung anak sapi Samiri buat disembah! 😡


Pahatan anak sapi Samiri
Kita juga melewati gunung yang ada pahatan Samiri. Mungkin ada yang sengaja membuatnya lagi untuk tujuan wisata. Karena dari sejarahnya patung tersebut sudah dihancurkan oleh nabi Musa.

Sampai di kota St. Chaterine jam 2an, late lunch karena untuk masuk kesini harus ada polisi perbatasan yang mengantar. Negara yang dikuasain militer segitunya banget yak 🙄 Syukurlah makanan yang disajikan lumayan menggugah selera, worth to wait. Kabarnya makanan khas Badui disana. 


Makanan Badui
Perjalanan berlanjut. Sekitar jam 7 malem sampai ke perbatasan Taba. Menginap semalam di Hilton Taba, yang saat datang masing2 kami diberi penanda berupa gelang ungu, selain itu ada suguhan rosela as welcoming drink nya. Segeeerr. Suhu setempat masih 12° siiy.


Welcoming drink

Cerita tentang bagaimana masuk perbatasan Palestina yang dijajah, dilanjut di part berikutnya yaa. Masjidil Aqsha, kami dataang...!! 🥺


Read more -

Thursday, 4 April 2019

Saat Salah Satu Pintu Syurga Kami Tertutup...

Kamis 14 Februari 2019 menjelang senja
Papa masih sibuk membetulkan jembatan kayu di belakang toko yang memang sudah jabuk. Seruan Mama yang memintanya berhenti karena sudah tarhim pun tidak diindahkan karena merasa tanggung kalau pekerjaannya harus dihentikan saat itu.

Hingga adzan maghrib berkumandang.. saat itulah pekerjaan terpaksa dihentikan karena kaki Papa tertusuk paku. Berdarah.
Tergopoh-gopoh Papa mengobati lukanya. Diberinya alkohol, obat merah, hingga dipukul-pukul yang menurutnya bisa membersihkan luka. Paksaan Mama supaya luka tersebut dibersihkan di klinik terdekat pun ditolak Papa. Keputusan yang mungkin harus disesali keduanya nantinya.. Papa menyesal karena tidak menurut kata Mama. Mama menyesal karena tidak cukup memaksa Papa berobat. Wallahu'alam.

Jum'at 15 Februari 2019
Jam 8 pagi saya dan Rian menjemput keduanya untuk berangkat ke Samarinda. Kami sudah berencana untuk menghadiri acara Niar, adik ipar yang menikah esok Sabtu.
Sebelum berangkat kami sengaja stop di klinik Ibnu Sina. Awalnya Papa keberatan saat kami bilang lukanya akan dibersihkan. Tapi akhirnya pasrah karena kami memaksa. Papa tampak cemas saat proses pembersihan, selalu meminta Mama jangan pergi dari sisinya. Boys will always be boys.

Selesai urusan di klinik sekitar jam 9 kami lanjutkan perjalanan ke Samarinda. Agak tergesa karena mengejar Jum'atan di Islamic Center Samarinda. Alhamdulillah on time.
Setelah Jum'atan lanjut makan siang di Torani, resto andalan kami pecinta seafood.
Kemudian menuju Ulin Guest House yang sebelumnya telah dibooking via Airy untuk kami beristirahat.

Sabtu 16 Februari 2019
Jam 7:30 meluncur ke gedung Al Ishlah tempat acara diadakan. Jam 8:00 akad nikah dimulai dengan Rian sebagai saksi. Jam 11:00 resepsi dimulai hingga menjelang ashar.
Acara ini jadi ajang reuni saya dan Rian dengan teman-teman kuliah, sekaligus ajang silaturahmi bagi Mama Papa dengan keluarga Sangkulirang-Sangatta-Samarinda.




Malamnya lanjut silaturahmi ke keluarga di daerah Lambung sambil Papa membagikan buah rambutan dan elai yang dibelinya di jalan poros sebelum ke Samarinda. Papa memang suka berbagi, terutama makanan. Gak afdol sepertinya kalau gak sharing.


Ahad 17 Februari 2019
Pagi jam 9:00 Bapak Hasan datang ke penginapan mengantar Nuri yang akan ikut mobil kami untuk kembali ke kostnya di Samarinda seberang. Papa sempat mengabadikan momen kami ngumpul sebelum jalan:



Sesampainya di kost Nuri, kami sempatkan masuk karena untuk pertama kalinya Mama Papa ke sana. Papa malah sempat ngobrol dengan ibu kost Nuri.

Setelahnya perjalanan dilanjutkan. Ishoma di Tahu Sumedang km.50



Sampai di Balikpapan lewat tengah hari. Alhamdulillah.

Rabu 20 Februari 2019
Pagi jam 8 saya dan Rian ke rumah Puskib. Rian pamitan dengan Mama Papa sebelum on site penerbangan jam 10 ke Melak. Sebenarnya tadi malam kami sudah kesana, tapi ternyata Mama Papa lagi ke tempat keluarga di Sidodadi. Mereka memang suka silaturahmi ke keluarga atau kenalan jika ada kesempatan, beda banget sama saya :P
Malah infonya Papa sempat adzan Maghrib di Masjid Hayya Alal Falah di Sidodadi sana.

Setelah antar Rian ke bandara saya lanjut ngantor sampai sore.
Malamnya pulang ke rumah Puskib setelah pulang kantor tadi beberes di rumah Azarya. Kalau suami sudah on site saatnya birrul walidayn sama Mama Papa (^.^)v

Kamis 21 Februari 2019
Saya ngantor seperti biasa, sementara rumah Puskib mulai dibongkar untuk renovasi bagian belakangnya. Papa mengirimkan gambarnya via whatsApp.



Mama cerita kalau Papa gak bisa bantu tukang yang bongkaran karena sedang gak enak badan. Papa malah ke puskesmas yang tidak jauh dari rumah.
Malamnya Papa minta dibuatkan bubur karena mulai gak enak makan.

Jum'at 22 Februari 2019
Pagi hari saat membereskan kamar Mama Papa, saya mendapati sikat gigi plastik di kasur. Saya tanya kenapa ada disitu. Mama bilang Papa merasa aneh pada rahangnya, jadi semalam sedia sikat gigi untuk mengganjal kalau tiba-tiba rahangnya tegang dan gak bisa buka mulut. Saya yang mendengarnya gak berfikir macam-macam dan lanjut beberes kamar, kemudian bersiap ke kantor. Saya melupakan teori risk management saat itu :(

Siang saat Jum'atan. Saya sedang bareng teman2 dalam perjalanan kembali ke kantor dari mengunjungi Feny yang baru lahiran, saat Mama menelepon mengabarkan kondisi Papa.
Kata Mama tadi pagi Julak Wati (kakak Papa) datang dan bilang kalau Papa seperti orang dengan gejala stroke karena sulit menggerakkan rahang/kepala. Sudah dibawa ke puskesmas, tapi perawat disana gak bisa menyimpulkan kalau itu gejala stroke, tapi kalau berlanjut disuruh langsung ke IGD.
Papa sedang Jum'atan saat itu. Sebelumnya Mama sudah bilang agar jangan dipaksakan ke Masjid, sholat zuhur aja di rumah. Tapi Papa keberatan kalau menyia-nyiakan Jum'at, jadi Papa tetap bersiap dan pergi ke Masjid An-Nur di belakang rumah memakai tongkat.
Saya memutuskan pulang. Dengan berlinang air mata karena syok mendengar cerita Mama, saya meminta izin kepada atasan untuk meninggalkan pekerjaan yang mendekati deadline (T_T)

Sesampainya di rumah saya ajak Papa periksa ke dokter syaraf di RS. Pertamina. Tapi di perjalanan saya putuskan untuk langsung ke IGD Pertamina karena biasanya antrian pasien dokter syaraf cukup panjang.
Di IGD kami sampaikan ke dokter jaga kondisi Papa yang seperti gejala stroke.Tapi dokter membantah karena Papa bisa menggerakkan tangan dan kakinya dengan baik.
Dokter jaga kemudian merujuk ke dokter THT karena keluhan leher yang tegang sampai gak bisa menelan makanan. Setelah diperiksa, dokter THT bilang palatum (bagian dalam mulut) bengkak jadi susah buka mulut dan menelan makanan. Diminta opname untuk observasi lanjutan.
Ada perasaan lega karena Papa tidak terindikasi stroke.



Malamnya keluarga datang menjenguk. Papa bisa komunikasi tapi terbatas karena tegang di lehernya. Mama yang menemani malam itu menginfokan sepanjang malam Papa tidur gelisah dan banyak keluar keringat padahal AC kamar perawatan cukup dingin.


Sabtu 23 Februari 2019
Pagi jam 9 saya sampai di RS membawa teh dan susu pesanan Papa. Julak Wati dan suami yang infonya mau datang menjenguk sudah ada di ruangan. 
Papa meminta Mama menyendokkan teh ke mulutnya. Sesaat setelah itu Papa mengalami kejang seperti orang yang terkena step. Infusnya pun terlepas menyebabkan darah tersebar di kasur dan lantai ruangan.
Semua panik dan memanggil-manggil perawat. Saya berlari menuju nurse satation.
Perawat segera datang menenangkan Papa. Setelahnya juga datang perawat yang membawa perlengkapan seperti tabung oksigen dan detektor denyut jantung.
Beberapa orang pembesuk dari kamar lain juga berdatangan karena kehebohan yang terjadi. Laa hawla walaa quwwata illa billah.. dzikir terus kami lafadzkan untuk kesembuhan Papa.



Setelah Papa dipasang alat-alat penunjang tadi, situasi menjadi kondusif.
Dokter syaraf datang mengecek kondisinya dan bertanya, "Apakah dalam 1-2 hari pasien ada tanggal gigi?".

"Tidak ada, dokter" jawabku terisak.

Julak kemudian berkata "Pekan lalu pasien ada tertusuk paku".

"Di sebelah mana?" tanya dokter.

Saya tunjukkan bekasnya di telapak kaki kiri Papa.

"Oh ini sudah bersih" kata dokter setelah memeriksanya.

Dokter syaraf pamit keluar kamar berdiskusi dengan dokter jaga. Kemudian dokter jaga memanggil saya selaku anak pasien untuk menandatangani surat persetujuan pemindahan Papa ke ruang ICU.

"Nanti setelah pasien stabil kita lakukan CT scan. Tapi kita juga harus bersiap untuk kemungkinan terburuk", dokter jaga menyampaikan dengan hati-hati.
Tapi saya cukup mengerti maksud beliau. Apalagi saat itu saya juga mencari tahu apa sebenarnya penyakit Papa. Tetanus.
Dengan sesenggukan saya sampaikan kabar ke mbak Icha di Bandung dan adik-adik di Malang agar segera pulang.



Sebelum tengah hari Papa dipindahkan ke ruang ICU. Mama bilang Papa bertanya jam berapa saat itu, karena beliau mau Zuhuran. Saya yang mendengar cerita itu yakin Allah akan menjaga Papa karena Papa selalu menjaga sholatnya O:)

Keluarga besar berdatangan ke ruang tunggu ICU, menemani dan menguatkan Mama. Bersyukur keluarga besar kami di Balikpapan, support system terpenting saat itu.
Hingga sore kondisi Papa belum juga stabil. Saya permisi pergi sebentar menjemput adik-adik di bandara, sekalian membeli makan malam untuk Mama. 

Maghrib saya kembali ke RS bersama adik-adik. Aby bergegas masuk ke ruang ICU. Tidak lama kemudian dia keluar sambil menangis. Papa menyadari kedatangannya namun tidak bisa mengatakan apapun, hanya isyarat tangan agar mendo'akannya (T_T).
Berikutnya Dea yang masuk ke ruang ICU, agak lama. Saat keluar Dea juga menangis. Mama menenangkan kami dengan mengajak kami terus berdzikir dan mendo'akan Papa:

"Agar Allah beri kami kesempatan beribadah bersama-sama lagi. Namun jika yang terbaik adalah berpulang kepadaNya, agar diberikan husnul khotimah. InsyaAllah kami ikhlas".

Waktu Isya keluarga besar berangsur pulang. Jam 9 malam Mbak Icha dan anak-anak datang ke RS langsung dari bandara. Anak-anaknya terpaksa ditinggal di luar dengan Dea, lalu dia bergegas ke ruang ICU. Jam besuk sudah lewat namun kami memohon agar dia bisa masuk. Syukurlah boleh.
Mbak Icha mengalami seperti Aby tadi, Papa hanya mengisyaratkan "Do'akan Papa".
Tangis kami tak terbendung saat kejangnya kembali kumat. Kondisi Papa makin drop. Tidak ada yang bisa kami lakukan selain pasrah dan berdo'a.
Mama menyuruh Mbak Icha dan anak-anaknya pulang beristirahat karena hari sudah larut. Saya dan Dea juga. Mama, Aby, dan Dinda (keponakan Mama) yang standby di RS.
Kami sampai di rumah hampir jam 12 malam.



Ahad 24 Februari 2019
Jam 1 dinihari. Anak-anak sudah terlelap. Saya, Dea, dan Mbak Icha sedang bersiap untuk tidur, saat chat dari Aby masuk.. Jantung Papa berhenti, sedang dilakukan pompa jantung. Ya Allah..

Bergegas kami boyong anak-anak masuk ke mobil, kembali ke RS. Sepanjang jalan kami panjatkan do'a dan dzikir.. Papa kuat, Papa bisa bertahan.
Sesampainya di RS, Dea bergegas ke ruang ICU. Saya menyusul kemudian, sementara Mbak Icha tetap di mobil menjaga anak-anak.
Saya mendapati Mama yang walaupun terduduk lemah di kursi, terus berdzikir. Didampingi Dea yang berlinang airmata menggelengkan kepala saat saya dengan ekspresi bertanya kepadanya.. Innalillahi wa innailaihi roji'uun. Seketika saya bersimpuh di pangkuan Mama. Saya tidak menangis saat itu. Mungkin tak percaya dengan yang saya dengar.
Tapi saat saya masuk ke kamar dimana Papa dirawat dan mendapati jenazahnya, disitu tangis saya pecah. Aby disana memeluk jasad dingin Papa sambil menangis.

Papa memang sudah pergi.

Papa sudah gak sakit lagi.

Disitulah keikhlasan kami semua diuji.

Saat salah satu pintu syurga kami tertutup..




Saya kemudian beranjak menuju parkiran. Tangis Mbak Icha tak terbendung saat saya kabari. Saya juga mengabari Rian saat itu, sambil booking penerbangan pagi untuknya kembali.
Dea datang untuk menggantikan Mbak Icha menjaga anak-anak di mobil. Kami berdua kembali ke ruang ICU untuk membereskan barang-barang dan mendampingi mengurus jenazah Papa untuk dipulangkan dengan mobil jenazah.

Mama mengabarkan ke Pak RT sekalian meminta tolong agar tetangga di sana bisa membereskan rumah kami yang berantakan karena sedang direnovasi.
Jam 3 dinihari kami sampai di rumah. Mendapati tetangga sedang memasang tenda di depan rumah, dan rumah sudah dirapikan, kami merasa sangat bersyukur tinggal di lingkungan ini.
Setelah membaca do'a untuk jenazah dipimpin oleh Julak, kami berkoordinasi dengan pengurus RT mengenai persiapan hingga pemakaman jenazah. 

Jam 7 pagi tetangga mulai berdatangan.
Tidak ada yang percaya Papa yang nampak sehat dan sering menyapa tetangga, telah tiada.
Tidak ada yang menyangka rumah yang sedang kami renovasi, saat itu juga menjadi rumah duka.
Tidak pernah diduga sakit 2 hari merupakan cara Allah memanggil Papa kembali.
We love him but Allah loves him more.

Jam 10 pagi jasad Papa dimandikan. Pas saat Rian dan mas Panca datang dari lokasi kerja.
Setelah itu disholatkan oleh keluarga. Ba'da zuhur lanjut disholatkan di Masjid An-Nur.






Alhamdulillah separuh mesjid terisi jamaah yang mensholatkan Papa, dan banyak juga yang ikut mengantarkan ke kubur yang lokasinya jauh dari rumah. Mama memilih di TPU Kariangau karena tempatnya rapi. Disana juga keponakan Papa yang juga sepupu kami, Ananda, dimakamkan. Papa sering ziarah kesana semasa hidupnya.

Prosesi pemakaman berjalan lancar. Langit Balikpapan yang belakangan panas terik saat siang hari karena sudah hampir sebulan tidak ada hujan, saat itu Alhamdulillah teduh. InsyaAllah penanda Papa husnul khotimah.


Airmata kami terus mengalir, apalagi saat jasad Papa mulai ditutupi tanah. Mama yang selama ini tampak tegar dan kuat pun lunglai, tak kuat berdiri. Stay strong, Mom. We're still here to take care of you.




Duka mendalam menyelimuti rumah kami beberapa hari ke depan. Kolega dan teman-teman Papa yang datang ta'ziah terus menceritakan kebaikan beliau yang mereka kenal. Papa sering sharing tulisan di WhatsApp. Sering juga menawarkan makanan yang gak seberapa kepaada mereka di kantor. Kami paham sekali kebiasaan beliau yang satu itu, Papa gak akan makan sebelum menawarkan kepada kami makanan yang ada padanya. He cares about others, too care sometimes. And we'll miss the way he treats us, for sure.

Sekarang 40 hari telah berlalu tanpamu, Pap. Tidak ada sehari pun kami lewatkan tanpa mendo'akan Papa disana. Papa orang baik, insyaAllah ditempatkan di tempat terbaik disisiNya, dijauhkan dari fitnah kubur, dan senantiasa dilimpahi rahmatNya. Aamiin.





Till we meet again in Jannah,




Dhy & all family

Read more -